Home / berita umum / Penyebab Keracunan Massal di Mojokerto Hingga Kini Masih Diselidiki

Penyebab Keracunan Massal di Mojokerto Hingga Kini Masih Diselidiki

Penyebab Keracunan Massal di Mojokerto Hingga Kini Masih Diselidiki – Pemicu keracunan massal di Mojokerto sampai sekarang masih tetap diselidiki. Petugas Dinas Kesehatan kembali turun ke tempat untuk mengecek air tanah masyarakat.

Pemungutan sampel air tanah masyarakat dikerjakan petugas Puskesmas Gondang. Sekurang-kurangnya ada 10 rumah masyarakat Dusun Sukomangu, Desa Karangkuten, Gondang yang diambil sampel airnya, termasuk juga air tanah dari rumah Ali Mustofa (39), masyarakat yang membuat nasi karena.

Sampel air diambil memakai botol spesial. Air ikut diambil dari keran yang disalurkan langsung ke botol.

Kepala Puskesmas Gondang dr Nunun Agung Lubiantoro menyampaikan, penelusuran air tanah masyarakat ini untuk pastikan peluang terdapatnya pemicu lainnya keracunan massal di Dusun Sukomangu tidak hanya dari nasi karena yang dikonsumsi beberapa korban.

“Takutnya air tanah yang digunakan memasak nasi karena memiliki kandungan bakteri E-coli melewati ujung batas hingga ada tanda-tanda keracunan,” kata dr Nunun, Senin (8/10/2018).

Berlainan dengan sampel makanan serta swap korban yang dicheck di laboratorium di Surabaya, sampel air tanah ini akan dicheck kandungannya di Labkesda Kota Mojokerto.

“Akhirnya keluar satu minggu lagi. Sampel ditanam di alat agar-agar agar tumbuh bakterinya type apakah, ikut apa melewati ujung batas ataukah tidak,” katanya.

Bila kandungan bakteri E-coli di di air tidak melewati ujung batas, lanjut dr Nunun, jadi pemicu keracunan massal di Dusun Sukomangu mengerucut pada nasi karena yang dibikin keluarga Ali Mustofa.

“Jika tinggi bakterinya di air, jadi dicari sumber kontaminasinya, contohnya dari sampah kotoran ternak atau aliran pipa yang berkarat,” pungkasnya.

Dikabarkan awal mulanya, keracunan massal berlangsung di Dusun Sukomangu pada Kamis (4/10) malam. Hasil pendataan petugas Puskesmas Gondang, korban keracunan ini sampai 77 orang.

Beberapa korban merintih pusing, mual, muntah serta diare sesudah konsumsi nasi karena dari acara tahlil di dalam rumah salah satunya masyarakat bernama Ali Mustofa.

Kebetulan makanan itu dibuat sendiri oleh keluarga Ali. Mereka membuat 127 bagian karena yang diberikan ke 112 jamaah tahlil serta tetangga seputar rumah mereka. Dilaporkan 146 orang mengonsumsi nasi karena itu.

About admin